Minggu, 27 Mei 2018

PROFIL PERILAKU AGRESIVITAS DALAM BERINTERAKSI DENGAN TEMAN SEBAYA PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN



            Anak, merupakan anugrah terindah yang di titipkan oleh Sang Pencpita kepada orang tua, di mana dalam perkembangannya nak akan tumbuh dan berkembang di lingkungannya. Menurut Erikson dalam Iriani (2016) pada setiap perkembangan muncul konflik sosial atau krisis ego
yang khas yang harus di hadapi dalam menghadapi tuntutan penyesuaian di lingkungan bila individu mengalami krisis ego dan dapat membentuk identitas secara tepat
, maka individu akan mendapatkan perkembangan ego yang sehat dan akan berkembang lebih optimal.  Hurlock (1978) menyatakan anak berusia dua sampai enam tahun belajar melakukan hubungan sosial dengan orang lain di luar lingkungan rumah, terutama dengan anak-anak yang umurnya sebaya. Mereka belajar bekerja sama dan menyesuaikan dirinya dalam kegiatan bermain dan belajar untuk berbagi mainan. Jika anak usia empat sampa enam tahun tersebut belum dapat bermain bersama dengan anak lain berarti ada gejala anak mengalami kesulitan dalam perkembangannya. Salah satu bentuk perilaku anak yang mengalami kesulitan hubungan sosial adalah anak yang berperilaku agresif.
            Menurut Dewi, R (2005) Agresif adalah tingkah laku menyerang baik secara fisik maupun verbal atau melakukan ancaman sebagai pernyataan adanya rasa permusuhan. Perilaku tersebut muncul dengan adanya interaksi, interaksi antar individu akan terjadi apabila seseorang melakukan tindakan yang menimbulkan respons atau reaksi di masyarakat.
A. Pengertian Sikap Agresif
            Agresivitas adalah istilah umum yang dikaitkan dengan adanya perasaan-perasaan marah atau tindakan permusuhan dan melukai orang lain, baik tindakan kekerasan secara fisik, verbal maupun menggunakan ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang mengancam atau merendahkan”. menurut Izzaty, (2005: 105). Ada dua tujuan agresif yang saling bertentangan satu dengan yang lain. Yakni untuk membela diri disatu pihak dan dipihak lain untuk meraih keunggulan dengan cara membuat lawan tidak berdaya.Selanjutnya Syamsu Yusuf (2014;124) menyatakan agresi (agression) yaitu perilaku menyerang baik secara fisik (nonverbal) maupun kata kata verbal. Tindakan agresif merupakan tindakan yang disengaja oleh pelaku. Heri Widodo (dalam Anantasari,2006:96) menyatakan bahwa “perilaku agresif pada anak cukup meresahkan apalagi bila dilihat dari akibat yang mungkin ditimbul kan oleh perilaku anak tersebut.orang tua harus lebih bijak untuk melihat perilaku anaknya”.Agresif anak dalam presepektif yang lebih lengkap dari berbegai sudut pandang, dengan demikian, akan dilakukan langkah-langkah dalam yang tepat dalam menghadapi anak agresif. Anantasari (2006:90) “anak yang sering mengalami perilaku yang menyimpang atau perilaku agresif biasanya mempunyai ciri-ciri, menyakitkan atau merusak diri sendiri dan orang lain, tidak diinginkan oleh orang tua yang menjadi sasarannya, dan perilaku yang seringkali melanggar norma.
            Berikut ini penjelasan dari perilaku agresif:
Menurut Syamsu Yusuf (2014:124) bentuk perilaku agresivitas anak bermacam - macam seperti: Memukul, mencubit, menendang, menggigit, marah - marah dan mencaci maki . Selanjutnya M. Ali (2003:15) menyatakan bahwa ada dua bentuk perilaku agresif yang sering ditampakan seseorang yakni:Tingkah laku agresif yang terbuka, yakni tingkah laku agresif yang ditujukan langsung kepada obyek perilaku yang menyebabkan perilaku agresif. Tingkah laku agresif yang tersembunyi yaitu tingkah laku agresif yang tidak langsung diarahkan kepada obyek perilaku yang menyebabkan perilaku agresif. Istilah agresif digunakan untuk menggambarkan perilaku siswa, bentuk dari luka fisik terhadap makhluk lain yang secara otomatis terdapat di dalam fikiran (Zirpoli, 2008: 440). Agresif merupakan peri-laku serius yang tidak seharusnya dan menimbulkan konsekuensi yang serius baik untuk siswa maupun untuk orang lain yang ada di lingkungannya. Salah satu bentuk emosi anak adalah marah yang diekspresikan melalui agresif (Seagal, 2010: 97). Hal tersebut merupakan tindakan yang biasa dila-kukan oleh anak sebagai hasil dari kemarahan atau frustasi. Paparan di atas dapat disimpulkan agresif merupakan bentuk ekspresi marah yang diwujudkan melalui perilaku yang dilakukan dengan sengaja untuk menyakiti orang lain dan menimbulkan konsekuensi yang serius.
            Pada anak usia 5-6 tahun perilaku agresivitas yang muncul saat berinteraksi dengan teman sebaya dimunculkan oleh anak bervariasi, ada anak yang memunculkan perilaku agresivitasnya seperti memukul ada yang mencubit ada yang selalu membenarkan diri sendiri, ada yang berkuasa dalam setiap situasi, ada yang menunjukan sikap permusuhan, dan ada yang keras kepala dalam perbuatannya.
B. Kurikulum yang Terkait  
Kompetensi Inti
Kompetensi Dasar
KI-2
Memiliki perilaku hidup sehat, rasa ingin tahu, kreatif dan estetis, percaya diri, disiplin, mandiri, peduli, mampu menghargai dan toleran kepada orang lain, menyesuaikan diri, tanggung jawab, jujur, rendah hati, dan santun dalam berinteraksi dengan keluarga, pendidik, dan teman.
2.6
Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap taat terhadap aturan sehari-hari untuk melatih kedisplinan
2.9
Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap peduli dan mau membantu jika dimintai bantuan.
2.10
Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap menghargai dan toleran kepada orang lain.
2.11
Memiliki perilaku yang dapat menyesuaikan diri.
2.14
Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap rendah hati dan santun kepada orang tua, pendidik, dan teman.

Dari pengertian sikap Agresif dan kurikulum terkait, jika anak mempunyai sikap agresif maka anak di ketegorikan belum memenuhi Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar dalam Kurikulum PAUD 2013
C. Faktor Penyebab Sikap Agresif pada Anak
1. Keluarga
            Beberapa factor keluarga yang dapat menyebabkan perilaku agresif anak, antara lain :
a. Pola asuh orang tua yang menerapkan disiplin dengan tidak konsisten.
b. Sikap pesimis orang tua.
c. Sikap orang tua yang keras dan penuh tuntutan.
d. Gagal memberikan hukuman yang tepat.
e. Memberi hadiah kepada perilaku agresif atau memberikan hukuman untuk perilaku prososial.
f. Kurang memonitor dimana anak berada.
g. Kurang memberikan aturan.
h.Tingkat komunikasi verbal yang rendah antara orang tua dan anak.
i. Gagal menjadi model yang baik dalam membiasakan perilaku prososial dan keterampilan memecahkan masalah.
j. Orang tua yang depresif yang mudah marah.

2. Sekolah
Beberapa anak sudah mulai mengalami masalah emosi atau perilaku sebelum mereka mulai masuk sekolah. Sedangkan anak yang lainnya mulai menunjukkan perilaku agresif ketika mulai bersekolah. Temperamen anak dan kompetensi social yang dimilikinya bersama dengan perilaku teman-teman serta guru dapat berperan dalam munculnya masalah emosi dan perilaku. Kondisi yang dialami anak dengan masalah emosi dan perilaku dapat menjadi berbahaya jika anak yang menampilkan perilaku agresif di tolak oleh lingkungannya. Hal ini akan membuat anak merasa tidak nyaman dan akhirnya makin menampilkan perilaku yang agresif. Dapat saja terjadi guru dan teman sebaya merupakan model dari perilaku agresif dan anak mencontoh perilaku tersebut.

3. Budaya    
            Berbagai pengaruh budaya yang spesifik mempengaruhi lui tingkat kekerasan yang ditampilkan di media, terutama televisi.
Beberapa akibat penayangan kekerasan di media yaitu sebagai berikut :
a. Mengajari anak dengan tipe perilaku agresif dan ide umum bahwa segala masalah dapat diatasi dengan perilaku agresif.
b.Anak menyaksikan bahwa kekerasan bisa mematahkan rintangan terhadap kekerasan dan perilaku agresif, sehingga perilaku agresif tampak lumrah dan bisa diterima.
c. Menjadi tidak sensitive dan terbiasa dengan kekerasan dan penderitaan. Teman sebaya juga merupkan sumber yang paling mempengaruhi anak. Ini merupakan factor yang paling mngkin terjadi ketika perilaku agresif dilakukan secara berkelompok. Ada teman yang mempengaruhi mereka agar melakukan tindakan-tindakan agresif terhadap anak lain. biasanya ada ketua kelompok yang dianggap sebagai yang jagoan, sehingga perkataan dan kemauannya selalu diikuti oleh teman-temannya.

C. Penanganan Anak Agresif
            Bambang Nugroho (2009:49) ‘‘bahwa penanganan yang dilakukan guru adalah sebagai berikut: Memberikan banyak perhatian, memberikan pujian, senyuman,dan belaian, mendukung anak menerjemahkan perasaannya, membantu anak mengungkapkan perasaannya, mengenali apa yang dapat memicu tindakan agresif, memberikan pembelajaran yang menarik, menjadi guru yang ramah,hangat, kemonikatif, simpatik, dan keibuan, menjadi guru yang ramah,hangat, kemonikatif, simpatik, dan keibuan, melatih anak bersosialisasi, memberikan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak, memberikan hadiah, (reward), memberi alternatif untuk menghilangkan kemarahannya Menciptakan atau menegakan kedisiplinan”.
            Penangan di atas juga dapa di praktekkan oleh orang tua yang anaknya teridentifikasi memiliki anak agresif, kembali lagi pada hakikatnya bahwa anka agresif memerlukan kasih sayang dan perhatian yang lebuh banyak dari orang sekitar, terutama orang tua.
D. Daftar Pustaka
            Indri Hapsari, Iriani.(2016).Psikologi Perkembangan Anak.Jakrta: PT Indeks
pps.unj.ac.id/journal/jpud/article/download/77/77-151-1-SM pdf (Diakses pada 27 Mei 2018)



               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar