Anak, merupakan anugrah terindah yang di titipkan oleh Sang Pencpita kepada orang tua, di mana dalam perkembangannya nak akan tumbuh dan berkembang di lingkungannya. Menurut
Erikson dalam Iriani (2016) pada setiap perkembangan muncul konflik sosial atau
krisis ego
yang khas yang harus di hadapi dalam menghadapi tuntutan penyesuaian di lingkungan bila individu mengalami krisis ego dan dapat membentuk identitas secara tepat
, maka individu akan mendapatkan perkembangan ego yang sehat dan
akan berkembang lebih optimal. Hurlock
(1978) menyatakan anak berusia dua sampai enam tahun belajar melakukan hubungan
sosial dengan orang lain di luar lingkungan rumah, terutama dengan anak-anak
yang umurnya sebaya. Mereka belajar bekerja sama dan menyesuaikan dirinya dalam
kegiatan bermain dan belajar untuk berbagi mainan. Jika anak usia empat sampa
enam tahun tersebut belum dapat bermain bersama dengan anak lain berarti ada
gejala anak mengalami kesulitan dalam perkembangannya. Salah satu bentuk
perilaku anak yang mengalami kesulitan hubungan sosial adalah anak yang
berperilaku agresif.yang khas yang harus di hadapi dalam menghadapi tuntutan penyesuaian di lingkungan bila individu mengalami krisis ego dan dapat membentuk identitas secara tepat
Menurut
Dewi, R (2005) Agresif adalah tingkah laku menyerang baik secara fisik maupun
verbal atau melakukan ancaman sebagai pernyataan adanya rasa permusuhan. Perilaku
tersebut muncul dengan adanya interaksi, interaksi antar individu akan terjadi
apabila seseorang melakukan tindakan yang menimbulkan respons atau reaksi di
masyarakat.
A.
Pengertian Sikap Agresif
Agresivitas
adalah istilah umum yang dikaitkan dengan adanya perasaan-perasaan marah atau
tindakan permusuhan dan melukai orang lain, baik tindakan kekerasan secara
fisik, verbal maupun menggunakan ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang
mengancam atau merendahkan”. menurut Izzaty, (2005: 105). Ada dua tujuan agresif
yang saling bertentangan satu dengan yang lain. Yakni untuk membela diri disatu
pihak dan dipihak lain untuk meraih keunggulan dengan cara membuat lawan tidak
berdaya.Selanjutnya Syamsu Yusuf (2014;124) menyatakan agresi (agression) yaitu
perilaku menyerang baik secara fisik (nonverbal) maupun kata kata verbal.
Tindakan agresif merupakan tindakan yang disengaja oleh pelaku. Heri Widodo
(dalam Anantasari,2006:96) menyatakan bahwa “perilaku agresif pada anak cukup
meresahkan apalagi bila dilihat dari akibat yang mungkin ditimbul kan oleh perilaku
anak tersebut.orang tua harus lebih bijak untuk melihat perilaku anaknya”.Agresif
anak dalam presepektif yang lebih lengkap dari berbegai sudut pandang, dengan
demikian, akan dilakukan langkah-langkah dalam yang tepat dalam menghadapi anak
agresif. Anantasari (2006:90) “anak yang sering mengalami perilaku yang
menyimpang atau perilaku agresif biasanya mempunyai ciri-ciri, menyakitkan atau
merusak diri sendiri dan orang lain, tidak diinginkan oleh orang tua yang
menjadi sasarannya, dan perilaku yang seringkali melanggar norma.
Berikut
ini penjelasan dari perilaku agresif:
Menurut
Syamsu Yusuf (2014:124) bentuk perilaku agresivitas anak bermacam - macam
seperti: Memukul, mencubit, menendang, menggigit, marah - marah dan mencaci maki . Selanjutnya M. Ali (2003:15) menyatakan
bahwa ada dua bentuk perilaku agresif yang sering ditampakan seseorang yakni:Tingkah
laku agresif yang terbuka, yakni tingkah laku agresif yang ditujukan langsung
kepada obyek perilaku yang menyebabkan perilaku agresif. Tingkah laku agresif yang
tersembunyi yaitu tingkah laku agresif yang tidak langsung diarahkan kepada
obyek perilaku yang menyebabkan perilaku agresif. Istilah agresif digunakan untuk
menggambarkan perilaku siswa, bentuk dari luka fisik terhadap makhluk lain yang
secara otomatis terdapat di dalam fikiran (Zirpoli, 2008: 440). Agresif
merupakan peri-laku serius yang tidak seharusnya dan menimbulkan konsekuensi
yang serius baik untuk siswa maupun untuk orang lain yang ada di lingkungannya.
Salah satu bentuk emosi anak adalah marah yang diekspresikan melalui agresif
(Seagal, 2010: 97). Hal tersebut merupakan tindakan yang biasa dila-kukan oleh
anak sebagai hasil dari kemarahan atau frustasi. Paparan di atas dapat disimpulkan
agresif merupakan bentuk ekspresi marah yang diwujudkan melalui perilaku yang
dilakukan dengan sengaja untuk menyakiti orang lain dan menimbulkan konsekuensi
yang serius.
Pada anak usia 5-6 tahun perilaku
agresivitas yang muncul saat berinteraksi dengan teman sebaya
dimunculkan oleh anak bervariasi, ada anak yang memunculkan perilaku agresivitasnya
seperti memukul ada yang mencubit ada yang selalu membenarkan diri sendiri, ada
yang berkuasa dalam setiap situasi, ada yang menunjukan sikap permusuhan, dan
ada yang keras kepala dalam perbuatannya.
B. Kurikulum yang Terkait
Kompetensi
Inti
|
Kompetensi
Dasar
|
|
KI-2
Memiliki perilaku hidup
sehat, rasa ingin tahu, kreatif dan estetis, percaya diri, disiplin, mandiri,
peduli, mampu menghargai dan toleran kepada orang lain, menyesuaikan diri,
tanggung jawab, jujur, rendah hati, dan santun dalam berinteraksi dengan
keluarga, pendidik, dan teman.
|
2.6
|
Memiliki perilaku yang
mencerminkan sikap taat terhadap aturan sehari-hari untuk melatih kedisplinan
|
2.9
|
Memiliki perilaku yang
mencerminkan sikap peduli dan mau membantu jika dimintai bantuan.
|
|
2.10
|
Memiliki perilaku yang
mencerminkan sikap menghargai dan toleran kepada orang lain.
|
|
2.11
|
Memiliki perilaku yang dapat
menyesuaikan diri.
|
|
2.14
|
Memiliki perilaku yang
mencerminkan sikap rendah hati dan santun kepada orang tua, pendidik, dan
teman.
|
|
Dari
pengertian sikap Agresif dan kurikulum terkait, jika anak mempunyai sikap
agresif maka anak di ketegorikan belum memenuhi Kompetensi Inti dan Kompetensi
Dasar dalam Kurikulum PAUD 2013
C.
Faktor Penyebab Sikap Agresif pada Anak
1. Keluarga
Beberapa factor
keluarga yang dapat menyebabkan perilaku agresif anak, antara lain :
a. Pola asuh orang tua yang
menerapkan disiplin dengan tidak konsisten.
b. Sikap pesimis orang tua.
c. Sikap orang tua yang keras dan
penuh tuntutan.
d. Gagal memberikan hukuman yang
tepat.
e. Memberi hadiah kepada
perilaku agresif atau memberikan hukuman untuk perilaku prososial.
f. Kurang memonitor dimana anak
berada.
g. Kurang memberikan aturan.
h.Tingkat komunikasi verbal yang
rendah antara orang tua dan anak.
i. Gagal menjadi model yang baik
dalam membiasakan perilaku prososial dan keterampilan memecahkan masalah.
j. Orang tua yang depresif yang
mudah marah.
2. Sekolah
Beberapa anak sudah mulai mengalami
masalah emosi atau perilaku sebelum mereka mulai masuk sekolah. Sedangkan anak
yang lainnya mulai menunjukkan perilaku agresif ketika mulai bersekolah.
Temperamen anak dan kompetensi social yang dimilikinya bersama dengan perilaku
teman-teman serta guru dapat berperan dalam munculnya masalah emosi dan
perilaku. Kondisi yang dialami anak dengan masalah emosi dan perilaku dapat
menjadi berbahaya jika anak yang menampilkan perilaku agresif di tolak oleh
lingkungannya. Hal ini akan membuat anak merasa tidak nyaman dan akhirnya makin
menampilkan perilaku yang agresif. Dapat saja terjadi guru dan teman sebaya
merupakan model dari perilaku agresif dan anak mencontoh perilaku tersebut.
3.
Budaya
Berbagai pengaruh budaya yang
spesifik mempengaruhi lui tingkat kekerasan yang ditampilkan di media, terutama
televisi.
Beberapa akibat penayangan kekerasan
di media yaitu sebagai berikut :
a. Mengajari anak dengan tipe
perilaku agresif dan ide umum bahwa segala masalah dapat diatasi dengan
perilaku agresif.
b.Anak menyaksikan bahwa kekerasan
bisa mematahkan rintangan terhadap kekerasan dan perilaku agresif, sehingga
perilaku agresif tampak lumrah dan bisa diterima.
c. Menjadi tidak sensitive dan
terbiasa dengan kekerasan dan penderitaan. Teman sebaya juga merupkan sumber
yang paling mempengaruhi anak. Ini merupakan factor yang paling mngkin terjadi
ketika perilaku agresif dilakukan secara berkelompok. Ada teman yang
mempengaruhi mereka agar melakukan tindakan-tindakan agresif terhadap anak
lain. biasanya ada ketua kelompok yang dianggap sebagai yang jagoan, sehingga
perkataan dan kemauannya selalu diikuti oleh teman-temannya.
C. Penanganan Anak Agresif
Bambang Nugroho (2009:49) ‘‘bahwa
penanganan yang dilakukan guru adalah sebagai berikut: Memberikan banyak
perhatian, memberikan pujian, senyuman,dan belaian, mendukung anak
menerjemahkan perasaannya, membantu anak mengungkapkan perasaannya, mengenali
apa yang dapat memicu tindakan agresif, memberikan pembelajaran yang menarik,
menjadi guru yang ramah,hangat, kemonikatif, simpatik, dan keibuan, menjadi
guru yang ramah,hangat, kemonikatif, simpatik, dan keibuan, melatih anak
bersosialisasi, memberikan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak,
memberikan hadiah, (reward), memberi alternatif untuk menghilangkan kemarahannya
Menciptakan atau menegakan kedisiplinan”.
Penangan
di atas juga dapa di praktekkan oleh orang tua yang anaknya teridentifikasi
memiliki anak agresif, kembali lagi pada hakikatnya bahwa anka agresif
memerlukan kasih sayang dan perhatian yang lebuh banyak dari orang sekitar,
terutama orang tua.
D.
Daftar Pustaka
Indri Hapsari, Iriani.(2016).Psikologi Perkembangan Anak.Jakrta: PT Indeks
https://media.neliti.com/media/publications/213754-none.pdf
(Diakses pada 26 Mei 2018)
http://ndesssss.blogspot.co.id/2013/12/laporan-observasi-anak-agresif.html
(Diakses pada 27 Mei 2018)
https://anzdoc.com/perilaku-agresif-anak-usia-dini.html
(Diakses pada 27 Mei 2018)
pps.unj.ac.id/journal/jpud/article/download/77/77-151-1-SM pdf (Diakses
pada 27 Mei 2018)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar